Masih berdiri di persimpangan sambil memegang kompas! Bukan tersesat tapi mencari yang tepat!

 

Putar Balik Tanpa Smirnoff!

Terkadang cinta terlalu cepat datang. Dan kemudian terbakar saat fajar! Tuhan yang mendoakan setan berkelakar hingga embun pertama menetes!

Kadang pejalankaki juga butuh persinggahan sementara. Tenangkan jiwa, duduk ditengah savana, kontemplasi, bicara apa mau semesta?

Tuhanku kembali berkotbah tanpa agama malam ini. Dia mendesak semua membuka kesadaran, “Dunia tidak baik-baik saja, Tuan Muda!”.

Hidup menyajikan banyak elegi dan dualisme keangkuhan setan dan malaikat yang berebut peran. Aku memilih menjadi kafir yang beriman!

Sastra itu menusuk. Satir atau realiskah saat ini? Absurditas lebih memabukkan daripada paham sufistik dan dialektika antagonis!

Yang sempurna didunia ini hanya kejahilan iblis. Sisanya pikiran manusia dan imaji tanpa kontrolnya sendiri!

Seringkali kejujuran malah membohongi diri kita. Dan menutup jiwa rapat-rapat didalam ruang pengap!

Telingaku tak lagi bersuara. Malam ini terdengar sangat hening. Menyelinap harapan keluar dari sendirinya di tanah berdaki.

Hey pencuri mimpi, belum puas juga kau menyelinap dalam setiap harapan hamba yang berjuang selamatkan hidupnya? Belum puas juga?

Terlalu banyak lemon belakangan ini, butuh sesendok gula untuk memberi warna pada hidup yang nyaris tanpa rasa!

Seduh perlahan kawan!

Bernafas Sampai Tuntas!

Kita punya dunia kecil yang terlalu luas untuk diketahui orang lain!

Dunia liar ini kadang membuat kita lepas kendali, melupakan batasan antara berani dan bodoh.

Mencoba bukan berarti salah, tapi menang seringkali bermakna kalah.

Salah dan kalah, saat pemenang perang bertandang ke para budak belian dan meminta maaf, rasanya seperti gelegar senja yang membabi buta memukul jiwa.

Kita punya dunia kecil yang terlalu luas untuk diketahui orang lain!

Dunia besar diluar sana terlalu sempit untuk jiwa kita yang lebar!

Hiduplah didunia yang baru!

Seakan kau baru pertama kali bernafas didunia yang semu!

Nisan Tanpa Nama Tengah

Yang angkuh itu memang akan lebih banyak mengeluh.

Dunia tidak sekeras batu sebenarnya, hanya pikirannya berusaha meluluhkan air yang membeku dengan hati yang dingin.

Nyaris semua dari kita berselimut rindu, tapi kali ini bukan milikmu dan bukan namamu.

Rindu ini berdiri sendiri setelah sekianpuluh ronde pukulan lebam tanpa pemenang.

Rindu ini bernama tuhan yang selalu kuacuhkan.

Tuhan yang dulu kuludahi setiap kali berteriak gamang disiang bolong dan kesibukan.

Sekarang dia memelukku kembali dengan cara dan perantara yang aneh!

Surga untuk setiap anak.

Semoga ada jalan bagi kita semua menuju sempurna.

Sempurna nanti hanya akan ditemui saat yang kekal menyapa jiwa kita dan rebahkan raga di rumah masa depan.

Nisan tanpa nama tengah!

Kilap Berhijab!

Dalam senyummu aku bercermin!

Terkadang senyum itu bisa memabukkan atau menjadi kesederhanaan yang menyejukkan.

Ini bukan prosa sufistik. Apa yang dibilang cantik itu bukan hal yang paling menarik, tapi senyum yang ramah itu membuat semua api tak berani muncul dari pemantik.

Tuhan menciptakan sebagian dunia dari keseluruhan wanita.

Tanpa Hawa, mungkin Adam akan menjadi manusia buta pertama yang berjalan tanpa tongkat.

Wanita itu sumber kehidupan, memberi warna pada dunia yang abu dan absurd.

Sering sekali bibir kita yang sering berkata kotor ini berani mengecup kening ibu yang tiap malam mendoakan anaknya.

Ini bukan tentang permaisuri, bidadari dan permadani terbang.

Ini juga bukan tentang Sinderela, sepatu kaca, dan kereta kencana.

Ditengah dunia yang serakah, kau anggun dibalik hijab!

Mother Ink! 

Dear “Tjut Yuniar Syamsiar”. This is an art! Not a crime! I wrote my mother name on my body, soul, and mind! Photo take by my brother Nalendra!

Melumat Pekat!

Saat dekat, justru kau yang paling melemahkanku ketika seharusnya aku berlagak kuat.

Saat jauh, justru kau yang paling menguatkanku ketika seharusnya aku berhenti bertekad.

Sedikit airmata sisa setahun kemarin, bukan tangisan. Tapi ini sebentuk rindu yang baru.

Terbentuk dari pecahan kristal asmara yang memadukan kisah kita dengan serba setengah.

Aku tidak meminta penuh, aku ingin kau yang memberi dengan seluruh!

Peluru jiwaku habis hanya untuk menyapamu setiap pagi.

Peluru jiwaku terlontar lantaran senyummu lebih dulu membelah jiwaku!

Cinta itu adalah iman bagiku yang bangga menjadi agnostik.

Cinta itu adalah amal bagiku yang frontal menyebar pesona.

Api dimatamu itu menghangatkan!

Kita lama diam seakan berpikir, padahal hanya bermimpi dibangunan usang tanpa proses rekonstruksi!

Selamat malam nona!!!

Lelangit Fajar!

Mencoba memahami senyummu pagi ini.

Hal yang tidak pernah bisa dimengerti sepanjang 1 tahun kebelakang.

Kita maju satu tahun kedepan!

Saling melumat dalam asmara yang tumpah berjuta aksara.

Fajar kali ini sungguh menyejukkan sekaligus hangat, seakan ada bara yang membara dengan nyala yang ramah menyambut diri.

Ramai ditengah sendiri. 

Sendiri ditengah ramai.

Semua terlihat baik-baik saja dan damai!

Padahal kita tahu semua saling bergolak, bergejolak!

Membuat setiap jejak terlangkahi dengan seperempat kesadaran.

Kau penuh yang jenuh pada kosong!

Dan aku hampa yang berkaca pada layar plasma!

Semoga hari ini menyenangkan! 

Hujan Rindu!

Kota hujan seakan tak pernah terpejam. 

Membuat semua enggan melewatkan sedetikpun dingin dibalik selimut hampa.

Kaulah diantara semua yang terlihat istimewa.

Dalam hujan pasti ada rindu!

Masalahnya adalah, itu kamu atau bukan!

Saling memburu rindu, kemudian kita berakhir dengan lebam membiru! 

Kamu memukul dengan cara yang berbeda. Hingga jiwaku jatuh dan mencinta dengan penuh!

Bahkan separuh senyummu dapat membuat hariku menjadi penuh! 

Biarkan hujan kali ini membedah kenangan, menyumbat angan, dan menumbuhkan harapan.

Buka Pagar!

Aku tersenyum kepadamu dan pada setiap rintikan hujan!

Cahaya yang kau lihat dibalik awan itu adalah sinar yang menjadi titah dariku kepada Tuhan.

Menyematkan aroma mawar tanpa duri yang dicuri ribuan musang.

Tenang, hujan mengabadikan semua kenangan yang tercuri, kau tidak akan lupa apa yang sudah diperbuatnya hingga kita bertiga duduk diujung senja.

Menanti mentari terbenam.

Aku orang merdeka, yang menari ditengah hujan tanpa pakaian dan penanda.

Aku orang merdeka, yang melangkahi pagi sampai malam tanpa kendali dan pretensi mencoret noda.

Aku orang merdeka, yang kau batasi untuk berkata.

Hantam Lapang!

Lantaran aku lembek, lemah, dan berlendir, kau merasa punya hak menjadi kikir.

Batasan realitas semakin keras antara pikiran yang terus tergerus kemunafikan dan mentalitas pinggir jalan yang merasa kaya.

Sarjana kehidupan lebih diperlukan daripada ribuan sarjana yang berdoa untuk kaya tapi kemudian lupa pada yang papa.

Luar biasa perjalanan malam ini, lancang merobek kendali pikiran yang belum teruji dalam hal ketulusan.